|
Kasus HIV/AIDS
dikhawatirkan meningkat di kalangan kelompok lelaki yang berhubungan
seksual dengan lelaki. Populasi kunci tersebut cenderung tertutup.
Cakupan program penanggulangan paling kecil dibandingkan dengan
kelompok berisiko lainnya, seperti pengguna narkoba jarum suntik dan perempuan pekerja seksual beserta pelanggannya.
Hal
tersebut dikemukakan Deputi Sekretaris Bidang Pengembangan Program
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Kemal Siregar dalam jumpa
pers sosialisasi Peringatan Hari AIDS Sedunia yang diselenggarakan
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Kamis (12/11).
Prevalensi
HIV sebesar 0,22 persen dari populasi pada tahun 2008, tetapi epidemi
HIV yang bersifat multidimensi sudah meningkat sampai pada tingkat
”terkonsentrasi”, yakni prevalensi HIV sudah melebihi 5 persen pada
populasi kunci yang rawan tertular HIV/AIDS, yakni perempuan pekerja seks, pengguna narkoba suntik, warga binaan lembaga
pemasyarakatan, dan kelompok lelaki yang berhubungan seksual dengan
lelaki (LSL).
Sekretaris Jenderal IAKMI Syahrul Aminullah
mengatakan, peningkatan epidemi demikian akan menyebabkan beban sosial
dan ekonomi. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen politik yang kuat
untuk menahan kasus laju HIV/AIDS, termasuk kegiatan promotif dan
preventif. ”Ini untuk menyelamatkan generasi penerus,” ujarnya.
Kecenderungan
Dia
mengatakan, salah satu kecenderungan epidemi HIV/AIDS ke depan ialah
peningkatan jumlah infeksi baru pada seluruh kelompok LSL. Prevalensi
HIV di kalangan LSL mencapai 5,2 persen berdasarkan Hasil Surveilans
Terpadu HIV dan Perilaku tahun 2007 serta diproyeksikan terus
meningkat. Diperkirakan jumlah gay, waria, dan LSL sekitar 700.000
orang.
Kemal mengatakan, dibandingkan dengan prevalansi di kalangan perempuan pekerja seksual secara langsung (10,4 %), waria (24,4 %), dan pengguna
narkoba suntik (52,4%) memang lebih kecil. Namun, kelompok tersebut
bersifat tertutup sehingga cakupan program kurang maksimal, yakni hanya
9 persen dan rawan meningkat.
Adapun di populasi kunci lain,
seperti pengguna narkoba suntik sudah mencapai 30 persen dan pekerja
seksual sekitar 50 persen. Padahal idealnya cakupan program mencapai 80
persen sehingga masih terdapat kesenjangan besar. Terlebih lagi, cara
berhubungan seksual lelaki dengan lelaki berisiko besar terhadap
infeksi HIV/AIDS karena peluang terjadinya perlukaan juga lebih besar.
”Untuk
mengantisipasi peningkatan kasus di kalangan kunci LSL tidak mudah
karena mereka cenderung tertutup sehingga intervensinya melalui aktivis
dari kalangan mereka sendiri,” ujar Kemal.
Untuk meningkatkan
cakupan LSL yang masih rendah itu, ke depan direncanakan program
komprehensif. Program tersebut dirumuskan dan diselenggarakan secara
aktif melibatkan populasi itu.
(INE)
sumber : kompas.com
|