|
Dari sejak awal sejarah
manusia telah ada yang melakukan penyeberangan gender maupun menjalin hubungan
erotik romantik dan/atau ritual dengan sesama gender atau antara penyeberang
gender dan gender yang ada dalam masyarakat. Dalam kebanyakan hal, hubungan itu
berlangsung bersamaan dengan hubungan perkawinan atau sebelumnya. Homoseks
eksklusif (gay/lesbian) memang baru meluas dalam jaman modern, terutama pada
abad ke 20.
1869:
Dr K.M. Kertbeny, seorang dokter Jerman-Hongaria,
menciptakan istilah homoseks dan homoseksualitas.
1920-an:
Komunitas homoseks mulai muncul di kota kota besar Hindia
Belanda.
± 1968:
Istilah wadam diciptakan sebagal pengganti yang lebih
positif bagi istilah banciatau bencong.
1969:
Organisasi wadam pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD)
berdiri, A.I. difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin.
Juni
1969:
Di New York, Amerika
Serikat, berlangsung Huru-Hara Stonewall, ketika kaum waria dan gay melawan
represi polisi yang khususnya terjadi pada sebuah bar bernama Stonewall Inn.
Peristiwa ini dianggap permulaan pergerakan gay yang terbuka dan militan di
Barat, dan kini dirayakan dengan pawai dan acara-acara lain, termasuk di
Israel, Amerika Latin, Jepang, Pilipina, India dan Indonesia. 1978:
International Lesbian
and Gay Association OLGA) berdiri di Dublin, Irlandia.
±
1980:
Istilah wadam diganti
menjadi waria karena keberatan sebagian pemimpin Islam, karena mengandung nama
seorang nabi, yakni Adam a.s.
1981:
Kumpulan gejala
penyakit (sindrom) yang kemudian dinamakan AIDS ditemukan di kalangan gay di
kota kota besar Amerika Serikat, Kemudian ternyata bahwa HIV, virus penyebab
AIDS, tidak hanya ditularkan melalui hubungan seks anal antara laki laki saja.
1 Mar.
1982:
Organisasi gay terbuka
pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia, berdiri, dengan sekretariat di
Solo. Segera terbentuk cabang-cabang di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan
tempat tempat lain. Terbit buletin G: gaya hidup ceria (1982 1984).
1985:
Kaum gay di Yogyakarta mendirikan Persaudaraan Gay
Yogyakarta (PGY) dengan terbitan Jaka.
1 Agu.
1987:
Kelompok Kerja Lesbian
dan Gay Nusantara (KKLGN, kemudian dipendekkan menjadi GAYa NUSANTARA (GN))
didirikan di Pasuruan-Surabaya sebagai penerus Lambda Indonesia. Menerbitkan majalah/buku
seri GAYa NUSANTARA.
1988:
Persaudaraan Gay Yogyakarta diteruskan menjadi Indonesian
Gay Society (IGS).
1989:
Denmark menjadi negeri
pertama di mana dua warga bergender sama dapat mencatatkan kemitraan
(registered partnership) dengan hak-hak hampir sama dengan perkawinan.
1990:
International Gay and Lesbian Human Rights
Commission (IGLHRC) berdiri di
San
Francisco, Amerika Serikat.
1992:
Berdiri organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru,
Bandung dan Denpasar.
1993:
Berdiri organisasi gay di Malang don Ujungpandang.
1993:
Isyu orientasi seksual
masuk dalam agenda Konferensi PBB tentang Hak Asasi Manusia di Wina, Austria,
tetapi ditentang oleh negara negara konservatif, termasuk Singapura.
Des.
1993:
Kongres Lesbian &
Gay Indonesia (KLGI) I diselenggarakan di Kaliurang, DIY. Diikuti sekitar 40
peserta dari Jakarta hingga Ujungpandang. Menghasilkan 6 butir ideologi
pergerakan gay dan lesbian Indonesia. GAYa NUSANTARA mendapat mandat untuk
mengkoordinasi Jaringan Lesbian & Gay Indonesia (JLGI).
1994:
Afrika Selatan menjadi
negara pertama dengan jaminan non-diskriminasi berdasarkan orientasi seksual
dalam UUD-nya.
1994:
Isyu orientasi seksual
kembali mewarnai perdebatan pada Konferensi Internasional Kependudukan dan
Pembangunan (ICPD, Kairo, Mesir), dan ditentang pihak pihak konservatif.
Indonesia secara eksplisit menolak.
1995:
Isyu orientasi seksual,
diperjuangkan oleh aktivis-aktivis lesbian, mencuat pada Konferensi Dunia
tentang Perempuan ke-2 di Beijing, Tiongkok. Kembali pihak-pihak konservatif,
termasuk Vatikan dan Iran, menentangnya. Indonesia juga termasuk yang
menentang.
Des.
1995:
KLGI II diselenggarakan
di Lembang, Jawa Barat. Diikuti makin banyak peserta
dari Jakarta hingga Ujungpandang.
22
Jul. 1996:
Partai Rakyat
Demokratik (PRD) menjadi partai pertama dalam sejarah Indonesia yang
mencantumkan "hak hak homoseksual dan transeksual" dalam
manifestonya.
Nov.
1997:
KLGI III
diselenggarakan di Denpasar. Pertama kali wartawan dapat meliput di luar sidang
sidang. A,I, diputuskan untuk sementara diselenggarakan rapat
kerja nasional karena dipertanyakan apakah kongres efektif.
Juni
1999:
Gay Pride dirayakan di
Surabaya, kerja sama antara GN, Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) don
Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL).
Sep.
1999:
Rakernas JLGI di Solo
diancam akan diserang oleh Front Pembela Islam Surakarta (FPIS), sehingga
dibatalkan.
Okt.
1999:
Pada International
Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke 5 di Kuala Lumpur,
Malaysia, dibentuk jaringan lesbian, gay, biseks, waria, interseks dan queer
se-Asia/Pasifik bernama Asia/Pacific Rainbow (APR). GN ikut menjadi pendiri.
Mar.
2000:
IGS mendeklarasikan 1
Maret sebagai Hari Solidaritas Lesbian & Gay Nasional.
Nov.
2000:
Kerlap-Kerlip Warna
Kedaton 2000, acara pendidikan HIV/AIDS melalui hiburan di Kaliurang, DIY,
diserang oleh serombongan laki-laki yang menamakan dirinya Gerakan Anti-Maksiat
(GAM). Sempat terbentuk front bersama berbagai organisasi yang menentang
kekerasan, tetapi karena intimidasi pihak GAM lambat-laun mengecil dan bubar.
Apr.
2001:
Negeri Belanda menjadi
negeri pertama yang mengesahkan perkawinan untuk semua orang (termasuk gay dan
lesbian). Salah seorang dari pasangan yang kawin harus warga atau penduduk
tetap Belanda.
Jul.
2001:
Perdebatan tentang
orientasi seksual kembali hangat di Konferensi Dunia Melawan Rasisme di Durban,
Afrika Selatan.
Apr.
2003:
Brasil mengusulkan
kepada Komisi Tinggi PBB untuk HAM agar orientasi seksual dimasukkan sebagai
salah satu aspek HAM. Pengambilan
keputusan ditunda. Dalam prosesnya, Vatikan mendesak pemerintah-pemerintah
Amerika Latin lainnya untuk menentang usulan ini.
Jun. 2003:
Pemerintah
Canada dinyatakan inkonstitusional
oleh Pengadilan Tinggi Ontario di Toronto ketika menolak pencatatan perkawinan
antara dua orang bergender sama. Pengadilan Tinggi segera memerintahkan
dimungkinkannya pencatatan sipil perkawinan homoseks, tanpa mensyaratkan
pasangan warga negara atau penduduk tetap
Canada.
Sumber :
Gaya
Nusantara,
Surabaya
|